Sejak dulu saya tidak pernah mau menggunakan bahasa Inggris apabila berbicara dengan bule (globalnya : bukan orang Indonesia) kalau sedang di Indonesia. Artinya saya adalah tuan rumah dan mereka adalah tamu, jadi saya akan sopan dan menunjukkan sebagai tuan rumah yang baik dan tidak lupa identitas dengan cara berkomunikasi dengan bahasa rumah saya, yaitu Indonesia. Bukan karena saya tidak bisa berbahasa Inggris loh, test bahasa Inggris saya oke kok walau hanya belajar dari nonton kartun The Simpsons, kecuali grammer saya yang hancur lebur ketika tes karena kepala ini merekam aturan grammer ala The Simpsons.
Kecuali ketika berkomunikasi via email atau lainnya untuk keperluan pekerjaan, saya mesti menggunakan bahasa Inggris untuk menghormati partner bicara (bukan lawan bicara) saya. Walau kadang sempat satu orang Singapore protes ke saya kalau bahasa Inggris saya kurang bagus, dan dia menawarkan kalau saya cukup pakai bahasa Indonesia saya dan nanti biar dia menggunakan tranlator Indonesia, itu tawaran atas niat baik atau pelecehan kepada saya? Hehehe…berprasaka baik saja. Karena saya masih sopan akhirnya saya minta teman saya untuk mengkoreksi bahasa Inggris yang telah saya tulis, biar saya sekalian belajar juga. Dan kembali saya melakukan komunikasi dengan si Singapore itu.
Tidak perlu saya ceritakan bagaimana si Singapore itu kadang memberikan pandangan rendah kepada saya (atau karena saya Indonesia?). Tapi kadang yang saya tidak habis pikir adalah kenapa orang Indonesia sendiri sering memanggil orang Indonesia lainnya dengan “Indon”, kata yang digunakan orang Malingsia untuk merendahkan orang Indonesia. Memang negeri ini belum yang seperti kita harapkan, tapi negeri ini negeri kita dan tidak boleh sedikitpun kita merendahkan bangsa sendiri.
Bicara tentang belum idealnya orang-orang di Indonesia, dalam berlalu lintas misalnya. Saya adalah pengendara motor artinya sering berada dijalan dan artinya mesti tahu aturan lalulintas yang mesti ditaati. Misalnya apabila di jalan ada garis putih yang tidak putus-putus artinya saya tidak akan melakukan lintas jalur, walaupun saya sering melihat orang melakukan sebaliknya. Apabila lampu dipersimpangan masih merah, atau sudah kuning saya tidak akan memasukkan gigi dan menarik gas motor saya, walaupun kadang banyak klakson yang dibunyikan agar saya mulai menarik gas. Atau saya lebih baik minggir agar mereka bisa cepat melewati lampu merah. Padahal selang waktu antar kuning dan merah itu paling akan terpaut tidak sampai 5 detik, tapi tidak bisa sabar. Aneh.
Sampai suatu saat, disuatu pertigaan jalan tanpa ada lampu pengatur lalu-lintas. Saat itu saya ingin belok ke kanan, dan kebetulan di depan saya juga ada mobil yang akan belok kanan (terlihat dari lampu kuning sebelah kanan mobil itu menyala kelap-kelip), kemudian saya coba lihat kesebelah kiri apakah ada orang yang akan belok ke arah saya. Saya liat dari kejauhan ada bule naik sepeda masih lurus dan belum ada tanda belok. Kepala mencoba menghitung apa yang baiknya saya lakukan, karena mobil sudah mulai membelok ke kanan, maka kalau saya ikuti dari sebelah kiri akan memenuhi sisi jalan dan akan menghalangi orang yang akan belok ke arah saya, maka saya ambil disisi kanan mobil dengan pertimbangan tidak ada orang yang belok ke arah saya. Dengan pelan saya coba ikuti mobil itu dari sisi kanan tiba bule dengan sepedanya ada di depan saya, memotong jalan. Tapi tidak mungkin ada peristiwa tabrakan karena motor saya pelan banget. Tapi entah kenapa si bule langsung teriak ke arah saya.
“HEY YOU, BLIND BASTARD!!!”
Karena sedang di atas motor tidak mungkin buat saya untuk membuka laptop dan mencari artinya dalam program Transtools (ya ya ya…I know what he means). Dia memaki saya? Katanya kalau pipi kamu ditampar maka harus balas menampar pipi orang itu biar tahu rasanya ditampar. Dan dalam ilmu fisika, ada aksi maka pati ada reaksi. Menurut ilmu komunikasi, apabila orang berusaha melakukan komunikasi maka mesti diberikan respon untuk menghormati orang tersebut.
Kata-kata apa ya yang harus dipilih agar sepadan? Ah terlalu lama apabila harus mencari dikamus, jadi saya gunakan bahasa makian universal yang tidak perlu diucapkan. Tangan kiri menarik porseneling motor, kemudian tangan kanan dilepas dari kontrol gas, tangan kanan mengarah ke si bule dan mulai memberikan kode bahasa universal untuk memaki, yaitu mengangkat jari tengah dan menutup keempat jari sisanya ke arah telapak tangan. Pasti tahu kan apa yg saya maksud, apalagi si bule dengan sepeda itu.
Karena tidak terjadi apa-apa, saya teruskan untuk belok kanan dan menuju ATM, tujuan saya. Masih menjalankan motor dengan pelan, karena memang lagi pengen santai (walaupun tadi baru saja dimaki dan memaki). Tidak lama dan tidak jauh dari persimpangan tiga tadi, ada yang memanggil-manggil saya dalam bahasa bukan Indonesia.
“Hey you…Hey you….you wrong”
Begitu sayup sayup yang saya denger, dan ketika saya lihat kebelakang ternyata si bule mengejar dengan sepedanya, sepertinya ‘bahasa isyarat’ yang saya berikan dimengerti dan lebih menyakitkan sampai-sampai dia menyusul saya hanya untuk mengatakan saya salah. Saya berhenti, menunggu dia. Sampai akhirnya dia juga menyusul saya dan masih berkata-kata, mengatakan kalau saya salah.
“Lo yang salah, lo tidak lihat mobil tadi sudah belok dan lo mencoba menyalip ?” saya bilang itu dalam bahasa Indonesia sampai menggunakan telunjuk saya untuk diarahkan ke muka dia (sebagai isyarat kalau kata “lo” berarti apa yang saya tunjuk, kenapa menunjuk muka? Karena saya masih sopan, karena di muka adalah kepala dimana otak berada, kalau saya tunjuk dengkul artinya saya tidak sopan itu sama saja mengatakan otak dia di dengkul). Dia terus berkata-kata alasan kenapa saya salah dalam bahasa Inggris, dan respon saya selalu dalam bahasa Indonesia (ini Indonesia bung). Sampai akhirnya protokol komunikasi kami disamakan, dia juga memakai bahasa Indonesia.
Ternyata dia tidak mau kalah dan malah membahas orang Indonesia lainnya tidak bisa benar untuk berlalu lintas dan hal-hal lainnya. Saya lihat jam tangan…wuuups sepertinya lumayan lama debat kusir dengan si bule, karenan bagi saya waktu adalah uang (kan mau ambil uang ke ATM, jadi time is money). Saya coba sudahi saya.
“Oke saya yang salah”, sambil mengulurkan tangan saya untuk bersalaman. Terlihat berat kayanya dia untuk menerima salaman saya. Saya ulang beberapa kali kalimat tadi, sampai akhirnya dia menerima tangan saya untuk salaman. Dia akhirnya meninggalkan saya sambil menggerutu.
Menghidupkan motor dan kembali menuju ke ATM dengan tenang.