Arsip Kategori: Kamera

Pada kamera DSLR termurah dengan kualitas bagus seperti Nikon D40 sudah tersedia lampu flash built-in. Lampu flash built-in ini sangat berguna ketika sedang berada dalam ruangan yang kekurangan cahaya. Tetapi tetap gunakan lampu flash built-in dengan bijak karena bila tidak digunakan dengan bijak akan berjatuhan korban?

Korban? Ini yang gw maksudkan dengan korban. Berikut 2 foto yang gw ambil dengan menggunakan flash berkuatan tinggi.

DSC_0596 DSC_0414

Korban pertama, sang model langsung terlihat ngantuk karena matanya ditusuk oleh kekuatan lampu flash built-in. Sedangkan foto kedua korban yang jatuh adalah wanita dengan menggunakan baju dengan bahan sejenis untuk sweater (cmiiw), lampur flash yang terlalu kuat seperti menembus baju sang wanita. Membuat foto kurang menarik.

Oleh karena itu kekuatan lampu flash built-in pada Nikon D40 ini mesti diatur kekuatannya sesuai dengan keadaan lingkungan.  Dan beruntung sekali, lampu flash built-in pada Nikon D40 ini dapat diatur kekuatannya. Dan karena gw sering bekerja pada mode manual (M) maka hampir semuanya di atur sendiri termasuk kekuatan cahaya flash.

Untuk mengatur kekuatan cahaya flash, maka dapat dilakukan dengan langkah berikut ini.

Pertama, apapun mode yang anda pilih, dengan menekan tombol “info” seperti digambar ini :

wp1   

hasilnya akan mengeluarkan tampilan berikut :

wp2 

Pada gambar di atas dapat dilihat lingkaran berwarna biru. Area yang dilingkari tersebut adalah nilai yang menyatakan “kekuatan” cahaya yang dikeluarkan oleh lampu flash.  Range nilai adalah -3 sampai dengan +1.

Selanjutnya tekan tombol berikut ini untuk mengubah-ubah konfigurasi :

wp3 

Setelah itu kita dapat dilihat tampilan seperti berikut :

wp4

Tinggal ubah-ubah nilainya dengan menaikkan dan menurutkan sesuai dengan kebutuhan dengan cara menekan tombol up dan down yang terlihat pad gambar.

wp5 

Tekan tombol OK setelah nilai yang diingikan telah didapat.

Berikut ini contoh hasil jepretan dari nilai flash compensation +1 sampai -3.

wp6

Sebagai keterangan, kipas angin ini berada di dalam ruangan yg sangat gelap.

Apakah setiap pengambilan foto pada ruangan yang kurang cahayanya harus menggunakan bantuan cahaya flash? Untuk itu mungkin bisa dilihat contoh kedua gambar berikut.

DSC_1004 

Foto di atas di ambil dengan menggunakan bantuan cahaya flash. Terlihat kulit menjadi sedikit bersinar, begitu juga bagian belakang terlihat lebih terang akibat cahaya flash. Warna wanita berbaju baju pink juga terlihat menjadi lebih bercaya. Dan ini kurang menyenangkan bagi gw.

Sedangkan gambar berikut diambil tanpa menggunakan cahaya flash.

DSC_1012

Tidak menggunakan flash tetapi foto ini menggunakan shuter speed yang lambat, lensa terbuka selama 1 detik untuk mengambil gambar ini. Artinya objek tidak boleh bergerak selama pengambilan gambar. Kalau terjadi gerakan objek saat pengambilan gambar maka yang terjadi adalah gambar menjadi goyang seperti yang terlihat pada kedua objek pria.

Sekian untuk kesempatan ini…mau belajar lagi menggunakan D40. Selamat mencoba

Ini oleh-oleh habis makan bakso di WaLe (waru lela), maka oleh-olehnya adalah “Black Black”, coklat buatan rumahan. Walah ada piliah “Black White”, tetapi karena referensi penjualnya yang banyak dibeli adalah tipe “Black Black” maka dipilihlah coklat ini yang akan menjadi sarana penambah kalori malam ini :)

wale_coklat

Foto di atas diambil dengan Nikon D40 dengan mode manual. shutter yang digunakan 1/60, f5.6. Makanya bisa dilihat yang tajam hanya bagian yg dituju saja sedangkan background akan kabur. Konsepnya adalah di nilai aperture (yang f5.6 itu loh) kecil sehingga kepekaannya akan lebih rendah, bila nilai aperture ini besaaaar…seperti mata kita maka mata akan memicing untuk melihat lebih jelas…hasilnya adalah sebagai berikut.

Capture2

Pada foto di atas digunakan nilai aperture f36, besar bukan. Hasilnya lihat sendiri, tulisan dibelakang terlihat lebih jelas dibanding foto sebelumnya, walaupun nilai shutter speernya lebih cepat yaitu 1/600.

Loh…kok malah membahas soal foto-mefoto nih, bukan cerita gmana lezatnya rasa coklat “Black Black”…nyem nyem

Ketika ingin membeli kamera digital, apa saja yang jadi pertimbangan? Dulu otak gw ada 2 pertimbangan yang selalu dipegang ketika ingin membeli kamera digital (tetapi belum sempat juga beli kamera karena belum punya duit..hehe) adalah nilai mega pixel dan nilai zoom.  Gw berpendapat semakin besar nilai mega pixel maka semakin bagus juga kamera tersebut (dan semakin mahal juga….hmm). Karena pikiran itu maka selalu mencari kamera (mencari di brosur doang) dengan nilai mega pixel yang besar.

Capture

Sampai suatu saat mempunyai dana untuk membeli kamera, tujuannya adalah DSLR. Seperti biasa…awalnya adalah mencari DSLR yang terjangkau dengan megapixel besar, maka tujuannya adalah Nikon D40x dan Nikon D60. Harga? D40x sekitar 6jutaan (harga saat blog ini ditulis, dan barang sudah jarang, sudah ditemui) dan D60 sekitar 7jutaan. Kenapa? karena kedua kamera ini sudah memiliki sensor untuk support 10.2MP.

Tapi karena kebiasaan gw dalam membeli sesuatu mesti tahu detail lebih banyak terlebih dahulu, maka mulainya mengembara ke dunia maya dulu. Dengan bantuan kendaraan milik Om Google. Dan ketemulah website Ken Rockwell ada kalimat singkat dari dia.

Buat apa membeli kamera dengan nilai megapixel yang besar? Emang lo mau mencetak foto seberapa besar?

Sebagai perbandingan, output maksimal kamera 6MP adalah 3000×2000 pixel dengan ukuran file di atas 1MB. Besar bukan? Trus mau dikemanakan gambar dengan ukuran segitu? di upload? yakiiiin? Anda-anda punya waktu untuk mengupload file dengan 1MB? Setelah diupload, apakah orang akan menghabiskan waktu untuk melihat gambar dengan ukuran 1MB tersebut?

Yang biasa terjadi justru ketika memilii file image dengan ukuran besar seperti di atas, gw akan mengecilkannya ke ukuran 1000pixel maksimal bahkan biasanya menjadi cukup 500pixel saja untuk diupload ke gallery foto gw di internet.

untuk dicetak ? Paling gw akan memcetak foto dengan ukuran 4R dan paling besar paling…hmm…brp ya istilahnya?

Yang pasti mencetak atau untuk keperluan upload tidak mungkin menggunakan ukuran yang sangat besar bagi gw. Jadi Nikon D40 dengan 6MP sudah cukup buat gw. Harga cuma 4,75juta, walau mesti keliling Jakarta untuk mencarinya karena sudah termasuk barang langka. Jadi daripada beli Nikon D60 mending beli D40 dan sisa duitnya bisa untuk beli lensa yang lebih bagus agar hasil fotonya makin maknyuuuus :) {jadi ikut-ikutan Om Ken Rockwell nih}

DSC00109 DSC00110

Memang pengen punya kamera DSLR untuk belajar fotografi jadi kalau ingin membuat design web tidak perlu lagi “mencuri” foto-foto hasil dari googling. Selain ini mempunyai alat untuk dokumentasi apapun yang gw lihat.

Dan terpilihlah Nikon D40. Bukan karena Nikon D40 yang murah meriah dengah harga Rp. 4,75 juta. Tetapi juga melalui mencarian informasi antara Nikon D60, Nikon D40x…saat itu belum memikirkan soal Nikon D40.

Nikon D60, harga Rp. 6 juta menuju Rp. 7 juta boooo…..dengan 10,2 MP, Lensa AF Nikor 50 mm, Rentang ISO 100 – 3200, Sync speed 1/200s dst dst…ini pilihan DSLR awal gw.

Kemudian sampailan ke website Ken Rockwell disini gw ketemu review Nikon D60, D40x dan juga D40. Gara2 ini jadi terpengaruh untuk memilih D40. Alasannya gampang, yaitu :

  • Buat apa memilih D60 dan D40x yang mahal dibandingkan D40 bila kemampuan D40 hampir sama dengan kedua seri Nikon tersebut.
  • Tetapi kan D40 cuma 6MP dibandingkan D60 dan D40x yang 10MP? Jawab Om Ken, “10MP buat apa? emang lo mau mencetak foto segede apa sih?” Dipikir-pikir bener juga, justru kadang gw sering me-resize foto agar lebih kecil buat di publish ke website.
  • Beda Rp. 2 juta bila dibandingkan D40 dengan D60, mending duitnya buat beli lensa yang ok. Bener aja, dengan dana tambahan Rp. 2 juta gw bisa beli lensa Nikon 55-200mm VR.

55-200mm-vr

Coba baca-baca dulu websitenya Ken Rockwell sebelum mau beli kamera. Bagaimana?? Masih pengen beli D60 yang mahal itu??

Sekedar info, D40 dan D40x sudah jadi barang langka saat ini, sudah keliling toko kamera di Bandung, keliling Jakarta juga….telp sana-sini…dan akhirnya ketemu juga D40 ini di Glodok. Waaaaaaaaaaaaaa…..senangnya.

Saatnya belajar….besok mau ke Kebon Binatang buat nude session (tentu aja dengan rusa, macan, monyet dan gajah…dst dst). Setelah itu mau keliling Bandung malam hari untuk mendokumentasikan keindahan Bandung malam hari….setelah itu ingin keliling Indonesia dimulai dari Batam or Tanjung Balai Karimun :)