13 – Tiga Belas


Aku tidak tahu apakah angka dapat membuat aku bahagia atau ketakutan. Yang pasti angka itu adalah tanggal ketika dia menerima aku untuk berjalan disampingnya. Tanggal yang tiap bulannya selalu selalu aku atau dia sempatkan untuk mengucapkan salam atau sekedar kalimat terima kasih karena telah mau berjalan beriringan.

Aku sampai berharap dan bersandar dengan dia, aku harap dia juga begitu. Tetapi…ini dunia, semua bisa berubah, semua bisa diubah, kadang harapan tidak sesuai dengan kenyataan, kadang ada orang yang ingin harapan dia yg digunakan untuk dijalankan orang lain, kadang ada orang yang berpikir logika dia lebih baik untuk orang lain.

Sayangku, apapun yang terjadi, kamu adalah anugrah yang paling baik dan indah yang telah diberikan oleh Allah untuk aku selama di dunia ini. Kamu telah membuat hari ini indah, pagi, siang, malam…puasa, shalat, memasak, duduk di pantai. Menyenangkan.

Aku tidak tahu seperti apa jalan kita nanti, tetapi aku selalu berusaha sayangku untuk bisa menggengam tanganmu dan berjalan mencapai surga di dunia ini dan akhirat kelak. Aku ingin harapan kita untuk mempunyai junior-junior (kami selalu menyebut itu untuk menggantikan kata anak) yang lucu bisa terkabul.

Semoga kalimat dari puisi Soe ini yang dulu pernah kuperdengarkan kepadamu akan menjadi kenyatanaan sayangku . . .

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.
Tapi, aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang
manis di lembah Mendalawangi.
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang.
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra.
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya.
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.
Mari sini, sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa.

Apakah aku terlalu berharap dan bersandar kepada manusia? Apakah aku terlalu mengagungkan cinta dan sayang kepada manusia?

Aku rasa hatiku ini hampir beku, ya Allah…apa yang harus aku lakukan untuk melembutkan hatiku lagi agar aku selalu ingat kepada Mu, agar aku takut kepada Mu, agar hati ini lapang dan dapat menerima yang telah Engkau tuliskan untuk aku.

Ya Allah, kabulkan lah harapan harapan ku….dan lapangkanlah dadaku apabila Engkau berkehendak lain.

Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s